Pilpres 2014, Dhani, dan Nazi.

Sedikit tersentak dengan adanya artikel yang mendukung video klip Ahmad Dhani yang bertemakan Nazi. Bisa dilihat di: http://politik.kompasiana.com/2014/06/25/pelajaran-sejarah-untuk-anggun-c-sasmi-dan-glen-fredly-669165.html

Menanggapi artikel itu, ada 10 poin yg pengen gw bahas:

1. Penulis sudah melakukan kekeliruan berpikir di awal tulisan. Fallacy of dramatic instance(over-generalisasi):

“Saya sudah lama mengetahui bahwa timses Jokowi sesungguhnya terdiri dari para liberalis yang menganut paham fundamentalis sehingga cenderung bersikap intoleran terhadap orang yang bukan berasal dari kelompok mereka; contoh paling jelas adalah kasus Gallery of Rogues, kebangkitan Bad Guys yang diposting Wimar Witoelar di twitter yang menyamakan beberapa tokoh Islam termasuk yang terkenal toleran seperti AA Gym dengan para teroris semacam Osama Bin Laden atau Amrozi atau Iman Samudra;  demikian pula ketika Surya Paloh melarang presenter di Metro TV miliknya menggunakan Jilbab seperti yang menimpa Sandrina Malakiano. Kalangan liberalis intoleran di tubuh Jokowi-JK sesungguhnya sama saja seperti kaum fundamentalis intoleran dari kalangan lain, misalnya yang menggunakan ideologi atau agama. Intoleransi adalah intoleransi, tidak peduli berdasarkan ideologi atau agama apapun.”

Penulis kurang teliti dalam membentuk argumentasi. Anis Matta yang mendukung Prabowo secara terang-terangan memuja figur Osama bin Laden. Sandrina Malakiano yang keluar dari Metro TV karena pilihannya untuk mengenakan jilbab, kini menjadi pendukung Jokowi-JK. Beberapa fakta tersebut bertentangan dengan pendapat penulis. Kesimpulannya, penulis telah gegabah membentuk argumentasi yang over-generalized.

2. “Sekarang kaum liberalis intoleran tersebut melalui Anggun C. Sasmi dan Glen Fredly mencoba mengotak-atik pilihan berpakaian Ahmad Dhani yang menggunakan baju mirip seragam Wehrmacht, tentara Jerman dari tahun 1935 – 1945 yang diasosiasikan sebagai “seragam NAZI” padahal istilah Wehrmacht bukan diciptakan oleh partai NAZI melainkan ada di dalam Pasal 47 Konstitusi Republik Weimar yang berbunyi: “Der Reichspräsident hat den Oberbefehl über die gesamte Wehrmacht des Reiches” yang diterjemahkan secara harafiah sebagai Presiden Reich adalah pemegang kekuasaan tertinggi dari seluruh angkatan bersenjata [Wehrmacht] Reich. Saya berani taruhan potong tangan bahwa timses Jokowi-JK yang sekarang berkaok-kaok mempermasalahkan baju Ahmad Dhani yang mereka persepsikan sebagai “seragam NAZI” tidak mengetahui bahwa pemerintahan Jerman hari ini adalah pewaris dari pemerintahan Republik Weimar. Saya berharap Jokowi-JK dan timsesnya periksa fakta terlebih dahulu sebelum melakukan kampanye hitam, masa membedakan angkatan bersenjata Jerman dan Partai NAZI saja tidak bisa.”

Artikel Times & Der Spiegel sudah mengafirmasi keterkaitan seragam Dhani dengan petinggi Nazi. Coba lihat: http://time.com/2920281/indonesia-ahmad-dhani-prabowo-subianto-nazi-fascist/

Sedikit kutipannya:

“That turns out to be an apt description. German news magazine Der Spiegel pointed out that Dhani’s military costume is eerily similar to the uniform worn by SS commander Heinrich Himmler. “Dhani wears the same emblem on the lapel and the same red breast-pocket lining,” it said Tuesday, comparing the photos of the two in a photo gallery.”

3. “Selain itu, anggap saja Ahmad Dhani mengenakan “seragam NAZI,” lalu kenapa? Partai NAZI atau rakyat Jerman tidak pernah menjajah Indonesia; Partai NAZI tidak pernah membunuh rakyat Indonesia,”

Kebodohan luar biasa dari sang penulis artikel.

Visi Indonesia dalam pembukaan UUD jelas mengatakan, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”. “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia… dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…”

Peran Nazi yang mengobarkan perang, genosida & kejahatan perang lainnya, gak bersesuaian dengan visi dan idealisme Republik Indonesia. Oleh karena itu, bukan masalah Nazi gak pernah bersentuhan langsung dengan Indonesia, tapi visi dan idealisme Republik Indonesia menentang perbuatan Nazi, yang dengannya segala atribut Nazi menjadi simbol identitas yang juga perlu ditentang.

4. “dan bila bukan karena Jerman menguasai Belanda, maka Jepang tidak akan bisa mengambil Hindia Belanda dari Belanda dan kemudian membentuk pasukan profesional pertama khusus Indonesia bernama Pembela Tanah Air (PETA) yang dalam sejarahnya merupakan ujung tombak dan tulang punggung dari pasukan yang merebut tanah air kita dari tangan penjajah. Bahkan teks proklamasi kita diketik di atas mesin ketik buatan Jerman saat dikuasai Partai NAZI. Dengan demikian bisa dibilang NAZI Jerman sangat berjasa bagi Indonesia.”

Penulis juga telah melakukan kekeliruan berpikir post hoc ergo propter hoc. Singkatnya, coba pikir, apa mungkin tentara yang memperjuangkan Indonesia merdeka GAK AKAN PERNAH TERBENTUK, kalo Indonesia gak dijajah Jepang? Terus apa mungkin teks proklamasi Indonesia GAK AKAN PERNAH bisa dibuat kalo gak ada mesin ketik buatan Jerman? Faktor pembentukan PETA (yang sangat ngawur) dan mesin ketik jerman, terlalu dangkal (kalo gak dikatakan mengada-ada) untuk dijadikan dasar mengatakan Nazi berjasa bagi Indonesia.

5. “Selain itu kembali, Ahmad Dhani mau mengenakan baju apa kenapa kubu Jokowi-JK yang repot? Toh dia beli pakai uang sendiri; hasil kerja sendiri bukan hasil mencuri di toko; tidak perlu kepo. Indonesia bukan Jerman; Indonesia bukan Eropa Barat dan Indonesia bukan Amerika; dan oleh karena itu Indonesia boleh berpakaian apa saja sekalipun model pakaian seperti itu tidak disukai di Jerman, Eropa Barat atau Amerika. Sekali lagi, standar moral etika Indonesia tidak ditentukan oleh standar moral dan etika Jerman, Eropa Barat atau Amerika. Di sana wanita bisa demonstrasi telanjang dada atau sekalian tidak berpakaian; apakah dengan demikian di Indonesia juga boleh demonstrasi tanpa pakaian? Gunakan common sense kalian.”

Penulis artikel disini telah keliru menempatkan hak privat dan hak publik. Apa berarti sesuatu yang dibeli sendiri, hasil kerja sendiri, lantas boleh dipakai sembarangan? Tiap negara punya hal-hal yang ditentangnya sendiri secara prinsipil. Jerman punya Nazi, Indonesia punya komunis. Dengan menyinggung hal itu, meskipun secara tidak langsung, akan menimbulkan masalah diplomatik yang serius. Apalagi didukung oleh tokoh politik yang memiliki kemungkinan jadi presiden berikutnya.

6. “Lagipula sejauh mana pengetahuan kubu Jokowi-JK tentang sejarah Perang Dunia II? sejarah NAZI Jerman? Pertempuan ideologi saat itu; Sejarah Perang Dunia I? Politik dalam Perang Dunia I; II; NAZI Jerman dan Eropa Barat? Amerika dan Eropa memang membungkam kebebasan berpendapat sepanjang mengenai usaha merevisi sejarah Perang Dunia II dengan memenjarakan pelakunya; namun banyak juga sejarawan terkemuka dan politisi terkemuka yang lolos dari aksi represi karena memenjarakan mereka terlalu riskan untuk kondisi politik dalam negeri.”

Ceritanya penulis artikel ini lagi nyombong, seakan-akan dirinya lah satu-satunya pakar Perang Dunia II… :p

7. “Apakah NAZI adalah fasis? Bukan, ideologi NAZI adalah sosialis-nasionalis yang sangat berbeda dari fasismenya Benito Mussolini.”

Coba pelajari lagi perihal fasisme.

“Sejarawan, ilmuwan politik dan para sarjana lainnya kaya lama diperdebatkan sifat yang tepat dari fasisme. Setiap bentuk fasisme adalah berbeda, meninggalkan banyak definisi terlalu lebar atau sempit. Sejak 1990-an, para sarjana termasuk Stanley Payne, Roger Eatwell, Roger Griffin dan Robert O. Paxton telah mengumpulkan sebuah konsensus kasar pada prinsip-prinsip inti ideologi. Untuk Griffin, fasisme adalah “bentuk, benar-benar revolusioner trans-kelas anti-liberal, dan dalam analisis terakhir, nasionalisme anti-konservatif” dibangun di berbagai kompleks pengaruh teoritis dan budaya. Ia membedakan periode antar-perang yang terwujud dalam elit yang dipimpin tapi populis “bersenjata partai” politik menentang sosialisme dan liberalisme dan politikradikal yang menjanjikan untuk menyelamatkan bangsa dari dekadensi.

Paxton melihat fasisme sebagai “keasyikan obsesif dengan penurunan masyarakat, penghinaan atau menjadi korban dan dengan kultus-kultus kompensasi persatuan, energi dan kemurnian”. Dalam interpretasi Paxton’s, fasis adalah “militan nasionalis berkomitmen”, bekerja gelisah bersama elit tradisional dan meninggalkan kebebasan demokratis dalam mengejar “pembersihan internal” atau perluasan wilayah. Salah satu definisi umum fasisme berfokus pada tiga kelompok ide: negations fasis yang anti-liberalisme, anti-komunisme dan anti-konservatisme, nasionalis, otoriter tujuan untuk menciptakan struktur ekonomi yang diatur untuk mengubah hubungan sosial dalam modern, self- ditentukan budaya;. estetika politik menggunakan simbolisme romantis, mobilisasi massa, pandangan positif kekerasan, promosi maskulinitas dan pemuda dan kepemimpinan karismatik.atau juga bisa di sebut fasisme sebagai sebuah sistem filsafatt”

(sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Fasisme)

Kesimpulannya, penyangkalan penulis terlalu dangkal. Meskipun dia bilang ideologi Nazi itu sosialis-nasionalis, tapi sifat-sifat fasisme juga ada di dalamnya.

8. Soal Nazi dan Yahudi, coba simak tulisan Hitler (Mein Kampf, BAB II) berikut ini:

“Dalam waktu singkat, aku semakin dipenuhi dengan pemikiran oleh kesaksianku yang secara perlahan bangkit terhadap jenis kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi di bidang-bidang tertentu.

Adakah bentuk sampah atau kejahatan, terutama dalam kehidupan budaya, tanpa setidaknya melibatkan orang Yahudi?

Bahkan ketika kau memotong-motong tubuh Yahudi dengan hati-hati, maka kau temukan semacam lava dalam sebuah tubuh yang membusuk, yang seringkali dipusingkan oleh cahaya mendadak – sebuah kike

Ketika pertama kali aku mengakui Yahudi ini sebagai pemimpin berhati dingin, tak punya malu, dan cerdik dalam penyebaran kejahatan yang muncul di wilayah kumuh kota besar ini, rasa benciku kembali menyiram sekujur tubuhku.”

Intinya adalah, apa yang disebutkan penulis di artikel adalah rentetan bola salju dari kebencian Hitler pribadi, dalam pandangannya terhadap orang-orang Yahudi yang dianggap banyak menyelewengkan moral masyarakat. Lebih jelas soal pandangan Hitler terhadap Yahudi bisa pelajari buku “Mein Kampf”.

9. Jumlah korban genosida Yahudi oleh Nazi memang masih menjadi perdebatan. Organisasi Yahudi, Anti-Defamation League dan semacamnya yang dibuat untuk mengkalkulasi jumlah korban, banyak menyatakan korbannya berkisar jutaan orang. Tapi ada juga yang menyangkalnya. Bisa dipelajari lebih lanjut, salah satunya di buku “The Holocaust Industry”.

10. Soal siapa yang jahat dan siapa yang baik, siapa yang benar dan siapa yang salah, gak bisa dilihat dari perspektif hitam-putih. Masing-masing pribadi bisa punya persepsi yang berlainan. Yang jadi soal adalah, kesalahan pihak lain gak bisa dijadikan landasan untuk membenarkan tindakannya. Begitu pula sebaliknya. Penulis terlalu bersemangat membela Nazi, tapi seakan-akan tutup mata soal banyak kesalahan yang dibuatnya saat Perang Dunia II, khususnya perihal genosida dan kejahatan perang lainnya. Semua kesalahan dan keburukan Perang Dunia II dilimpahkan begitu saja pada pihak sekutu karena salah mengambil tindakan. Penulis di sana gak mempertimbangkan faktor subjektif masing-masing pihak dalam peranannya di Perang Dunia.

***

Akhir kata, dukung Prabowo is fine. Tapi dukung kesalahan Nazi, itu sebuah langkah besar menuju kekacauan politik di Indonesia. Salam pemilu damai… :D

Advertisements

Anak-Anak Zaman

Anakmu bukanlah milikmu,

mereka adalah putra putri sang Hidup,

yang rindu akan dirinya sendiri.

 

Mereka lahir lewat engkau,

tetapi bukan dari engkau,

mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

 

Berikanlah mereka kasih sayangmu,

namun jangan sodorkan pemikiranmu,

sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.

 

Patut kau berikan rumah bagi raganya,

namun tidak bagi jiwanya,

sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,

yang tiada dapat kau kunjungi,

sekalipun dalam mimpimu.

 

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,

namun jangan membuat mereka menyerupaimu,

sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,

ataupun tenggelam ke masa lampau.

 

Engkaulah busur asal anakmu,

anak panah hidup, melesat pergi.

 

Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,

Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,

hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

 

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,

sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,

sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.

 

-Kahlil Gibran-

 

Family Picture

Humanist or Materialist

The man behind the gun or the gun in the man’s hand, that bring many armed crime acts? Polemik ini bukan berasal dari Kongres Amerika Serikat. Polemik muncul pada suatu diskusi di ruang kelas mata kuliah “Teknologi dan Perubahan Sosial” Studi Pembangunan ITB. Pertanyaan yang tertera di awal terkait dengan program-program pengembangan teknologi yang justru pada kenyataannya tidak mendapatkan manfaat maksimal. Dalam konteks tertentu, kadang pemanfaatan teknologi menjadi hal yang kontra-produktif.

Saya memiliki suatu dasar premis mengenai hal ini: segala hal di dunia bersifat netral, manusia lah yang memberi makna. Adalah mustahil bagi sebuah batu yang tidak bergerak, memberikan suatu ancaman bagi manusia. Manusia lah yang membuat batau jadi mengerikan, ketika batu tersebut dilempar ke orang lain. Namun, batu juga bisa memberi manfaat bagi manusia saat batu tersebut menjadi bagian rumah yang melindungi manusia dari cuaca buruk dan satwa liar.

Jadi, polemik yang menjadi persoalan di atas dapat dilihat dari dua perspektif: humanis atau materialis. Dalam pandangan kaum humanis, faktor manusia lah penentu segala nilai. Sedangkan dalam pandangan kaum materialis, sesuatu yang dianggapnya merugikan akan langsung dinilai sebagai hal yang buruk.

Terlepas dari siapa yang benar, saya pada akhirnya menemukan ketidaksetujuan dengan argumentasi kaum humanis. Mereka berpandangan seperti halnya pendapat saya dalam paragraf kedua bahwa suatu benda bersifat netral, dan manusia lah yang memberi makna. Dalam tahap tersebut, saya sepakat sepenuhnya. Namun kemudian argumentasi berlanjut, “Dalam konteks Indonesia, maka bolehlah orang-orang sipil memiliki senjata api.” Disitulah letak perdebatan.

Harus dipahami bahwa ide atau paham tertentu tidak dapat dipraktekkan secara absolut. Ide dengan kenyataan selalu saling kejar-mengejar dan menimbulkan kesenjangan (gap). Untuk itulah perlu adanya toleransi dalam setiap paham. Begitu pula dengan argumentasi yang timbul di atas. Apakah dengan alasan “kenetralan benda”, setiap orang boleh memegang senjata api, rudal balistik, hingga bom nuklir? Toh dalam pandangan tersebut sama, semua benda bersifat netral, dan manusia yang bakal menentukan baik dan buruk. Apabila hal tersebut dipraktekkan begitu saja, maka keteraturan publik tidak dapat dijaga. Bahkan dalam kondisi yang lebih parah akan menimbulkan huru-hara (chaos).

Dalam kondisi yang chaos tersebut penyebabnya satu, karena otoritas negara tidak mampu mengendalikan publik. Bentuk pengendalian yang paling jelas adalah by force (kekuatan fisik). Otoritas negara perlu melengkapi dirinya dengan kekuatan militer, yang tidak dimiliki oleh masyarakat sipil. Dengan itulah keteraturan dapat dijaga.

Kembali ke polemik di awal, argumentasi yang mengatakan semua benda itu netral perlu dipahami secara lebih baik. Sifat benda adalah netral. Namun setiap benda memiliki kadar manfaat atau pengaruh yang berbeda-beda. Dalam konteks keberhargaan (preciousness value), tentu emas akan lebih berharga daripada batu. Begitu pula dalam konteks keberbahayaan (dangerousness value), maka senjata api menjadi lebih berbahaya daripada pentungan kayu.

Kesadaran akan kadar setiap benda itulah yang melengkapi premis netralitas benda. Untuk menariknya dalam konteks Indonesia, maka pertanyaannya, “Pantaskah publik sipil di Indonesia diperbolehkan untuk memiliki senjata api?”

Saya berpendapat Indonesia tidak pantas (atau belum pantas) mengeluarkan kebijakan kebebasan kepemilikan senjata api. Sebabnya dua: aspek legalitas dan aspek mentalitas. Aspek legalitas karena produk hukum Indonesia belum semaju Amerika Serikat dalam regulasi soal kepemilikan senjata api. Lebih penting bagi kita pertimbangkan aspek mentalitas. Setiap benda yang memiliki kadar tertentu yang dapat membahayakan manusia lainnya, maka ia perlu memiliki kualitas mental tertentu. Dalam bahasa lainnya, seseorang perlu memiliki kecerdasan emosi atau kedewasaan mental saat dia ingin memiliki barang dengan kadar berbahaya.

Dalam pandangan saya, masyarakat Indonesia rata-rata memiliki tempramen yang tinggi. Ditambah lagi penegakan hukum masih belum mencapai tingkat yang dapat dikatakan memuaskan. Oleh karena itu, akan sangat beresiko jika diterapkan kebijakan kebebasan kepemilikan senjata api. Keteraturan publik (public order) akan sangat terganggu karena akan semakin banyak bentrokan yang berujung pada jatuhnya korban jiwa. Penanganan hukum yang buruk akan menyebabkan satu bentrokan melahirkan bentrokan yang lebih banyak dan lebih parah dampaknya.

and you're exist…

%d bloggers like this: